Showing posts with label Cerita Rakyat. Show all posts
Dongeng Keong Mas
Once
upon a time, there was a couple living in a palace. They were Prince
Raden Putra and Dewi Limaran. Prince Raden Putra's father was the king
of the kingdom.
One day, Dewi Limaran was walking around in the palace garden. Suddenly she saw a snail. It was ugly and disgusting.
"Yuck!" said Dewi Limaran and then she threw it away into a river.
She
did not know that the snail was actually an old and powerful witch. She
could transform herself into anything. The witch was angry to Dewi
Limaran. The witch put a spell on her and changed her into a golden
snail. The witch then threw it away into the river.
The
golden snail was drifting away in the river and got caught into a net.
An old woman was fishing and used her net to catch some fish. She was
surprised to see a golden snail in her net. She took it and brought it
home. When the old woman woke up in the morning, she was surprised that
the house was in the good condition.
The floor was mopped. And she also had food on the table. She was thinking very hard.
"Who did this to me? The person is very kind." It happened again and again every morning.
The
old woman was very curious. One night she decided to stay up late. She
was peeping from her room to know who cooked for her. Then, she could
not believe what she saw. The golden snail she caught in the river
turned into a beautiful woman. The old woman approached her.
"Who are you, young girl?"
"Who are you, young girl?"
"I am Dewi Limaran, Ma'am. A witch cursed me. I can change back as a human only at night," explained Dewi Limaran.
"The spell can be broken if I hear the melody from the holy gamelan," continued Dewi Limaran.
The old woman then rushed to the palace. She talked to Prince Raden Putra about her wife.
Prince Raden Putra was so happy. He had been looking for his wife everywhere.
The old woman then rushed to the palace. She talked to Prince Raden Putra about her wife.
Prince Raden Putra was so happy. He had been looking for his wife everywhere.
He
then prayed and meditated. He asked the gods to give him the holy
gamelan. He wanted to break the witch's spell. After several days
praying and meditating, finally gods granted his wish. He immediately
brought the holy gamelan to the old woman's house. He played it
beautifully. And then amazingly the golden snail turned into the
beautiful Dewi Limaran.
The couple was so happy that they could be together again. They also thanked the old woman for her kindness. As a return, they asked her to stay in the palace.
The couple was so happy that they could be together again. They also thanked the old woman for her kindness. As a return, they asked her to stay in the palace.
Cerita Rakyat - Legenda Kota Surabaya
SURA AND BAYA
It was a very hot day. Sura and Baya were looking for some food. Suddenly, Baya saw a goat.
“Yummy, this is my lunch,” said Baya.
“No way! This is my lunch. You are greedy! I had not eaten for two days!” said Sura.
Then Sura and Baya fought again. After several hours, they were very tired. Sura had a plan to stop their bad behavior.
“I’m tired of fighting, Baya,” said Sura.
“Me too. What should we do to stop fighting? Do you have any idea?” asked Baya.
“Yes, I do. Let’s share our territory. I live in the water, so I look for food in the sea. And you live on the land, right? So, you look for the food also on the land. The border is the beach, so we will never meet again. Do you agree?” asked Sura.
“Hmm... let me think about it. OK, I agree. From today, I will never go to the sea again. My place is on the land,” said Baya.
Then they both lived in the different places. But one day, Sura went to the land and looked for some food in the river. He was very hungry and there was not much food in the sea. Baya was very angry when he knew that Sura broke the promise.
“Hey, what are you doing here? This is my place. Your place is in the sea!”
“But, there is water in the river, right? So, this is also my place!” said Sura.
Then Sura and Baya fought again. They both hit each other. Sura bit Baya's tail. Baya did the same thing to Sura. He bit very hard until Sura finally gave up. He went back to the sea. Baya was very happy. He had his place again.
The place where they were fighting was a mess. Blood was everywhere. People then always talked about the fight between Sura and Baya. They then named the place of the fight as Surabaya, it’s from Sura the shark and Baya the crocodile. People also put their fight as the symbol of Surabaya city.
Kisah Ande-Ande Lumut (Cerita Rakyat Jawa Timur)
Dahulu kala, ada dua buah
kerajaan, Kediri dan Jenggala. Kedua kerajaan itu berasal dari sebuah
kerajaan yang bernama Kahuripan. Raja Erlangga membagi kerajaan itu menjadi dua
untuk menghindari perang saudara. Namun sebelum meninggal raja Erlangga berpesan
bahwa kedua kerajaan itu harus disatukan kembali.
Maka kedua raja pun bersepakat
menyatukan kembali kedua kerajaan dengan menikahkan putera mahkota Jenggala,
Raden Panji Asmarabangun dengan puteri Kediri, Dewi Sekartaji.
Ibu tiri Sekartaji, selir raja
Kediri, tidak menghendaki Sekartaji menikah dengan Raden Panji karena ia
menginginkan puteri kandungnya sendiri yang nantinya menjadi ratu Jenggala.
Maka ia menyekap dan menyembunyikan Sekartaji dan ibunya.
Pada saat Raden Panji datang ke
Kediri untuk menikah dengan Sekartaji, puteri itu sudah menghilang. Raden Panji
sangat kecewa. Ibu tiri Sekartaji membujuknya untuk tetap melangsungkan
pernikahan dengan puterinya sebagai pengganti Sekartaji, namun Raden Panji
menolak.
Raden Panji kemudian berkelana.
Ia mengganti namanya menjadi Ande-Ande Lumut. Pada suatu hari ia tiba di desa
Dadapan. Ia bertemu dengan seorang janda yang biasa dipanggil Mbok Randa
Dadapan. Mbok Randa mengangkatnya sebagai anak dan sejak itu ia tinggal di rumah
Mbok Randa.
Ande-Ande Lumut kemudian minta
ibu angkatnya untuk mengumumkan bahwa ia mencari calon isteri. Maka
berdatanganlah gadis-gadis dari desa-desa di sekitar Dadapan untuk melamar
Ande-Ande Lumut. Tak seorangpun ia terima sebagai isterinya.
Sementara itu, Sekartaji
berhasil membebaskan diri dari sekapan ibu tirinya. Ia berniat untuk menemukan
Raden Panji. Ia berkelana hingga tiba di rumah seorang janda yang mempunyai
tiga anak gadis, Klething Abang, Klething Ijo dan si bungsu Klething Biru. Ibu
janda menerimanya sebagai anak dan diberi nama Klething Kuning.
Klething Kuning disuruh
menyelesaikan pekerjaan sehari-hari dari membersihkan rumah, mencuci pakaian
dan peralatan dapur. Pada suatu hari karena kelelahan Klething Kuning menangis.
Tiba-tiba datang seekor bangau besar. Klething Kuning hampir lari ketakutan.
Namun bangau itu berkata, “Jangan takut, aku datang untuk membantumu.”
Bangau itu kemudian mengibaskan
sayapnya dan pakaian yang harus dicuci Klething Kuning berubah menjadi bersih. Peralatan
dapur juga dibersihkannya. Setelah itu bangau terbang kembali.
Bangau itu kembali setiap hari
untuk membantu Klething Kuning. Pada suatu hari bangau menceritakan tentang
Ande-Ande Lumut kepada Klething Kuning dan menyuruhnya pergi melamar.
Klething Kuning minta ijin
kepada ibu angkatnya untuk pergi ke Dadapan. Ibunya mengijinkan ia pergi bila
pekerjaannya sudah selesai. Ia pun sengaja menyuruh Klething Kuning mencuci
sebanyak mungkin pakaian agar ia tidak dapat pergi.
Sementara itu ibu janda
mengajak ketiga anak gadisnya ke Dadapan untuk melamar Ande-Ande Lumut. Di
perjalanan mereka tiba di sebuah sungai yang sangat lebar. Tidak ada jembatan
atau perahu yang melintas. Mereka kebingungan. Lalu mereka melihat seekor
kepiting raksasa menghampiri mereka.
“Namaku Yuyu Kangkang. Kalian
mau kuseberangkan?”
Mereka tentu saja mau.
“Tentu saja kalian harus
memberiku imbalan.”
“Kau mau uang? Berapa?” tanya
ibu janda.
“Aku tak mau uangmu. Anak
gadismu cantik-cantik. Aku mau mereka menciumku.’
Mereka terperanjat mendengar
jawaban Yuyu Kangkang. Namun mereka tidak mempunyai pilihan lain. Akhirnya
mereka setuju. Kepiting raksasa itu menyeberangkan mereka satu persatu dan
mereka pun memberikan ciuman sebagai imbalan.
Sesampainya di rumah mbok Randa,
mereka minta bertemu dengan Ande-Ande Lumut.
Mbok Randa mengetuk kamar
Ande-Ande Lumut, katanya, “Puteraku, lihatlah, gadis-gadis cantik ini ingin
melamarmu. Pilihlah satu sebagai isterimu.”
“Ibu,” sahut Ande-Ande Lumut,
“Katakan kepada mereka, aku tidak mau mengambil kekasih Yuyu Kangkang sebagai
isteriku.”
Ibu Janda dan ketiga anak
gadisnya terkejut mendengar jawaban Ande-Ande Lumut. Bagaimana pemuda itu tahu
bahwa mereka tadi bertemu dengan kepiting raksasa itu? Dengan kecewa mereka pun
pulang.
Di rumah, Klething Kuning sudah
menyelesaikan semua tugasnya berkat bantuan bangau ajaib. Bangau itu memberinya
sebatang lidi.
Ketika ibu angkatnya kembali
Klething Kuning sekali lagi meminta ijin untuk pergi menemui Ande-Ande Lumut.
Ibu angkatnya terpaksa mengijinkan, namun ia sengaja mengoleskan kotoran ayam
ke punggung Klething Kuning.
Klething Kuning pun berangkat.
Tibalah ia di sungai besar. Kepiting raksasa itu mendatanginya untuk menawarkan
jasa membawanya ke seberang sungai.
“Gadis cantik, kau mau ke
seberang? Mari kuantarkan,” kata Yuyu Kangkang
“Tidak usah, terima kasih” kata
Klething Kuning sambil berjalan menjauh.
“Ayolah, kau tak perlu
membayar,” Yuyu Kangkang mengejarnya.”Cukup sebuah ci... Aduh!”
Klething Kuning mencambuk Yuyu
Kangkang dengan lidi pemberian bangau. Kepiting raksasa itu pun lari ketakutan.
Klething Kuning kemudian
mendekati tepi air sungai dan menyabetkan lidinya sekali lagi. Air sungai
terbelah, dan ia pun bisa berjalan di dasar sungai sampai ke seberang.
Klething Kuning akhirnya tiba
di rumah Mbok Randa. Mbok Randa menerimanya sambil mengernyitkan hidung karena
baju Klething Kuning bau kotoran ayam. Ia pun menyilakan gadis itu masuk lalu
ia pergi ke kamar Ande-Ande Lumut.
“Ande anakku, ada seorang gadis
cantik, tetapi kau tak perlu menemuinya. Bajunya bau sekali, seperti bau
kotoran ayam. Biar kusuruh ia pulang saja.”
“Aku akan menemuinya, Ibu,”
kata Ande-Ande Lumut.
“Tetapi... ia...,” sahut Mbok
Randa.
“Ia satu-satunya gadis yang
menyeberang tanpa bantuan Yuyu Kangkang, ibu. Ialah gadis yang aku
tunggu-tunggu selama ini.”
Mbok Randa pun terdiam. Ia
mengikuti Ande-Ande Lumut menemui gadis itu.
Klething Kuning terkejut sekali
melihat Ande-Ande Lumut adalah tunangannya, Raden Panji Asmarabangun.
“Sekartaji, akhirnya kita
bertemu lagi,” kata Raden Panji.
Raden Panji kemudian membawa
Dewi Sekartaji dan Mbok Randa Dadapan ke Jenggala. Raden Panji dan Dewi
Sekartaji pun menikah. Kerajaan Kediri dan Jenggala pun dipersatukan kembali.
Gambar:http://www.best-of-web.com/_images_300/Realistic_Red_Crab_100423-225972-879042.jpg
Sumber : http://resourceful-parenting.blogspot.com/2011/05/kisah-ande-ande-lumut-cerita-rakyat.html
Legenda Gunung Tidar (Cerita Rakyat dari Jawa Tengah)
Dahulu
kala, di pulau Jawa bagian timur terdapat sebuah gunung besar bernama
Mahameru. Karena besarnya gunung ini, pulau Jawa makin lama makin miring
ke arah timur. Ujung timur pulau Jawa tenggelam dan ujung baratnya terangkat ke atas.
Para dewa sangat prihatin sehingga menghadap Batara Guru untuk melaporkan masalah ini.
Batara
Guru kemudian mengumpulkan para dewa. Ia memerintahkan supaya mereka
mengangkat gunung Mahameru dan memindahkannya ke arah barat.
Para
dewa bersama-sama mengangkat gunung yang sangat besar itu dan terbang
membawanya ke arah barat. Ketika diangkat, puncak gunung jatuh dan
menjadi gunung Semeru.
Mereka
terus membawa gunung Mahameru ke barat. Sebagian demi sebagian gunung
jatuh. Bagian-bagian yang jatuh itu membentuk deretan gunung baru.
Ketika para dewa tiba di tengah-tengah pulau Jawa, gunung yang mereka bawa tinggal sedikit. Mereka pun memutuskan untuk meletakkan sisa gunung itu, yang kemudian membentuk gunung kecil . Gunung itu kemudian disebut gunung Tidar.
Karena
letaknya yang tepat di tengah pulau Jawa, gunung Tidar menjadi pakunya
pulau Jawa. Pulau Jawa pun tidak lagi miring ke timur.
Sumber : http://resourceful-parenting.blogspot.com
Baturaden (cerita rakyat jawa tengah)
Suatu sore, seperti biasanya Suta sedang berjalan-jalan disekitar tempat pemandian atau biasa disebut dengan taman sari. Tiba-tiba ia dikejutkan oleh jeritan seorang wanita. Suta segera mencari arah jeritan tadi.
Akhirnya ia tiba didekat sebuah pohon besar. Dilihatnya putri Adipati menjerit-jerit dibawah pohon. Di dekatnya, seekor ular yang sangat besar menggelantung, mulutnya menganga siap menelan putri yang tengah ketakutan itu. Suta sendiri sebenarnya sangat takut melihat ular itu. Namun melihat keadaan putri Adipati yang pucat ketakutan itu, timbul keberaniannya untuk membunuh ular tersebut. Diambilnya bambu yang cukup besar, dipukulnya kepala ular tersebut berkali-kali. Ular itu menggeliat-geliat kesakitan. Dan tak lama kemudian ular itu diam tak bergerak. Mati.
“terima kasih kang Suta. Kau telah menyelamatkan jiwaku,” kata putri Adipati yang kelihatan masih gemetar.
“itu sudah menjadi tugas saya, Tuan putri. Hamba adalah abdi Kadipaten, yang selalu siap mengorbankan nyawa demi keselamatan tuan putri,” sahut Suta.
Putri Adipati itu kemudian diantar oleh Suta menuju Kadipaten.
Sejak peristiwa itu. Putri Adipati itu semakin akrab dengan Suta. Bahkan keduanya kini telah merasa saling jatuh hati. Dan mereka berencana meningkatkan hubungan ke tali pernikahan.
Hubungan kedua insan yang saling mencintai itu akhirnya diketahui oleh sang Adipati. Maka dia menjadi murka.
“dia hanya seorang batur..! Sedangkan dirimu seorang raden, putri seorang Adipati. Kau tak boleh menikah dengannya, anakku..!” kata sang Adipati
Mendengar kata-kata ayahnya sang putri sangat sedih hatinya. Apalagi ketika mendengar kabar bahwa Suta dimasukan penjara bawah tanah oleh sang Adipati. Kesalahan Suta ialah karena dia berani melamar putri seorang Adipati, yang berbeda derajat dan martabatnya diantara mereka.
Didalam penjara, Suta tidak diberi makan dan minum, bahkan ruang penjaranya digenangi air setinggi pinggang. Akibatnya Suta terserang penyakit demam. Mendengar kabar keadaan Suta, sang putri bertekad membebaskan kekasihnya itu.
“emban, aku harus bisa membebaskan kang Suta, kasihan dia. Dahulu dia telah menolong saya, aku telah berhutang nyawa kepadanya. Bantulah aku emban,” kata sang putri kepada pengasuhnya.
Pengasuh itu mengetahui perasaan putri ndaranya itu. Dia juga iba mendengar keadaan Suta yang sakit dipenjara. Maka pengasuh perempuan itu diam-diam menyelinap di penjara bawah tanah. Dan akhirnya ia berhasil membebaskan pemuda malang itu, dan dibawanya ke suatu tempat. Disana sang putri telah menunggu dengan seekor kuda. Kemudian dengan menunggang seekor kuda, mereka berboncengan pergi meninggalkan Kadipaten. Dalam perjalanan, keduanya menyamar sebagai orang desa, sehingga tak dikenali orang.
Setelah melakukan perjalanan yang cukup jauh, sampailah keduanya di tepi sebuah sungai, mereka beristirahat sejenak. Sang Putri merawat Suta yang masih sakit.
Berkat kesabaran dan ketelatenan sang putri merawat Suta dan beberapa hari kemudian pemuda itu akhirnya sembuh seperti sediakala.
Karena tempat mereka berhenti itu dirasa cocok bagi mereka. Maka keduanya memutuskan untuk menetap disana. Tempat itu kemudian dikenal dengan nama BATURADEN (yang berarti Batur dan Raden).
Baturaden sampai sekarang menjadi tempat wisata yang cukup menarik dan banyak dikunjungi orang. Tempat itu terletak di kaki gunung slamet Purwokerto, Jawa Tengah.
Sumber : http://apepsaprol.wordpress.com/2012/05/07/baturaden-cerita-rakyat-jawa-tengah/
Timun Mas
Suatu hari ia didatangi oleh raksasa yang ingin memberi seorang anak dengan syarat apabila anak itu berusia enam tahun harus diserahkan keraksasa itu untuk disantap.
Mbok Sirnipun setuju. Raksasa memberinya biji mentimun agar ditanam dan dirawat setelah dua minggu diantara buah ketimun yang ditanamnya ada satu yang paling besar dan berkilau seperti emas.
Kemudian Mbok Sirni membelah buah itu dengan hati-hati. Ternyata isinya seorang bayi cantik yang diberi nama timun emas.
Semakin hari timun emas tumbuh menjadi gadis jelita. Suatu hari datanglah raksasa untuk menagih janji Mbok sirni amat takut kehilangan timun emas, dia mengulur janji agar raksasa datang 2 tahun lagi, karena semakin dewasa,semakin enak untuk disantap, raksasa pun setuju.
Mbok Sirnipun semakin sayang pada timun emas, setiap kali ia teringat akan janinya hatinyapun menjadi cemas dan sedih.
Suatu malam mbok sirni bermimpi, agar anaknya selamat ia harus menemui petapa di Gunung Gundul. Paginya ia langsung pergi. Di Gunung Gundul ia bertemu seorang petapa yang memberinya 4 buah bungkusan kecil, yaitu biji mentimun, jarum, garam,dan terasi sebagai penangkal. Sesampainya dirumah diberikannya 4 bungkusan tadi kepada timun emas, dan disuruhnya timun emas berdoa.
Paginya raksasa datang lagi untuk menagih janji. Timun emaspun disuruh keluar lewat pintu belakang untuk Mbok sirni.
Raksasapun mengejarnya. Timun emaspun teringat akan bungkusannya, maka ditebarnya biji mentimun.
Sungguh ajaib, hutan menjadi ladang mentimun yang lebat buahnya. Raksasapun memakannya tapi buah timun itu malah menambah tenaga raksasa.
Lalu timun emas menaburkan jarum, dalam sekejap tumbuhlan pohon-pohon banbu yang sangat tinggi dan tajam.
Dengan kaki yang berdarah-darah raksasa terus mengejar. Timun emaspun membuka bingkisan garam dan ditaburkannya.
Seketika hutanpun menjadi lautan luas. Dengan kesakitannya raksasa dapat melewati.
Yang terakhit Timun Emas akhirnya menaburkan terasi, seketika terbentuklah lautan lumpur yang mendidih, akhirnya raksasapun mati.
" Terimakasih Tuhan, Engkau telah melindungi hambamu ini " Timun Emas mengucap syukur. Akhirnya Timun Emas dan Mbok Sirni hidup bahagia dan damai.
Sumber : http://www.coolstuff.me/2012/12/cerita-rakyat-timun-mas.html
LUTUNG KASARUNG
Purbararang didn’t agree with her father’s decision. “It’s supposed to be me, Father. I’m the eldest daughter!” Purbararang said. Prabu Tapa Agung smiled. “Purbararang, to be a queen takes more than age. There are many other qualities that one must possess,” explained Prabu Tapa Agung wisely. “What does Purbasari have that I don’t?” Purbararang pouted. “You’ll find out when Purbasari has replaced me,” Prabu Tapa Agung answered.
After the discussion, Purbararang went back to her room. “Is there something wrong?” asked Indrajaya. Indrajaya is Purbararang’s future husband. “I’m upset! Father chose Purbasari as his successor and not me! I have to do something!” Purbararang said. Driven mad by her anger, she came to a witch and asked her to send rash all over Purbasari’s body. Before going to bed, Purbasari started to feel itch all over her body. She tried applying powder to her body, but it’s no use. Instead, the itching grew even worse. She didn’t want to scratch it, but she just couldn’t help it. In the next morning, there were scratch mark all over Purbasari’s body. “What happened to you?” asked Purbararang, pretending to be concerned. “I don’t know, sis. Last night, my body suddenly felt very itchy. I scratched and scratched, and this is what happened,” Purbasari answered. Purbararang shook her head. “You must have done something really awful. You’ve been punished by the gods!”
That day, the whole kingdom was scandalized. “What have you done, Purbasari?” demanded Prabu Tapa Agung. Purbasari shook her head. “I didn’t do anything that would upset the gods, Father,” she answered. “Then how can you explain what happened to your body?” Prabu Tapa Agung asked again. “If you don’t confess, I’ll banish you to the woods.” Purbasari took a deep breath. “Like I said before, I didn’t do anything wrong. And I’d rather be thrown into the woods than to confess to a deed I didn’t commit.”
After a short discussion with his advisor, Prabu Tapa Agung ordered Purbasari to be moved to the woods. Purbasari was very sad, but she couldn’t do anything to defy her father’s order. She was accompanied to the woods by a messenger. He built a simple hut for Purbasari. After the messenger left, suddenly a black monkey came to Purbasari’s hut. He carried a bunch of bananas. From behind him, some animals looked on. “Are the bananas for me?’ Purbasari asked. The black monkey nodded, as if he understood what Purbasari said. Purbasari took the bananas with pleasure. She also said thanks. The other animals that were looking on also seemed to smile. “Are you willing to be my friend?” Purbasari asked them. All the animals nodded happily. Although she was living by herself in the woods, Purbasari never lacked of supplies. Everyday, there were always animals bringing her fruits and fish to eat.
A long time had passed since Purbasari was banished to the woods, but her body still itched. At some places, her skin was even ulcerating. What am I supposed to do?” Purbasari sighed. The monkey who was sitting next to her stayed still, there were tears in his eyes. He hoped Purbasari would remain patient and strong.
One night, on a full moon, the monkey took Purbasari to a valley. There is a pond with hot spring water. The monkey suddenly spoke, “The water of this pond will heal your skin,” he said. Purbasari was surprised, ”You can talk? Who are you?” she asked. “You’ll find out, in time,” the monkey said. Purbasari didn’t want to force the monkey. She then walked to the pond. She bathed there. After a few hours, Purbasari walked out of the pond. She was shocked to see her face reflected on the clear pond water. Her face was beautiful again, with smooth and clean skin. Purbasari observed her entire body. There were no traces of any skin ailments. “I’m cured! I’m cured!” Purbasari shouted in joy. She quickly offered thanks to the gods and also to the monkey.
The news of Purbasari’s condition quickly spread to the kingdom, irritating Purbararang. She then accompanied by Indrajaya go to the woods to see Purbasari. Purbasari asked if she would be allowed to go home. Purbararang said she would let Purbasari return to the palace if Purbasari’s hair were longer than hers. Purbararang then let her hair down. It was so long, it almost touched the ground. But it turned out that Purbasari’s hair was twice longer than Purbararang’s hair.
“Fine, so your hair is longer than mine.” Purbararang admitted. “But there is one more condition you must fulfill, do you have a future husband who is handsomer than mine?” said Purbararang as she walked toward Indrajaya. Purbasari felt miserable. She didn’t have a future husband yet. So, without much thought, she pulled the black monkey beside her.
Purbararang and Indrajaya burst out, but their laughter didn’t last long. The monkey meditates and suddenly transformed into a very handsome young man, a lot more handsome than Indrajaya. “I’m a prince from a kingdom far away. I was cursed to be a monkey because of a mistake I committed. I could regain my true form only if there’s a girl who would be willing to be my wife,” said the young man.
Finally, Purbararang gave up. She accepted Purbasari as the queen, and also confessed everything she had done. “Please forgive me. Please don’t punish me,” Purbararang said, asking for forgiveness. Instead of being angry, Purbasari smiled. “I forgive you, sis,” she said. Soon after, Purbasari become queen. Beside her was the handsome prince, the former monkey known as Lutung Kasarung.
Sumber ; penggunaantensesgrammarbahasainggris.blogspot.com
Situ Bagendit (cerita rakyat jawa barat)
Sebelah Utara kota Garut terdapat sebuah Situ yang bernama Situ
Bagendit. Indahnya alam situ ini telah membuat Situ Bagendit terkenal
sebagai tempat rekreasi yg menyenangkan.
Konon beribu-ribu tahun yang lalu sebelum Situ Bagendit menjadi “Situ”, tempat itu merupakan dataran desa yg subur dan seorang janda kaya bernama Nyi Endit yg paling berkuasa dan ditakuti di desa tersebut.
Kekayaan yg berlimpah-limpah ia gunakan untuk modal dipinjamkan kepada penduduk dengan bunga yg amat tinggi. Untuk keamanan pribadinya, Nyi Endit memelihara beberapa orang jago sebagai tukang kepruk. Jago-jago itu selain bertindak sebagai pengawal pribadi Nyi Endit, juga bertugas sebagai “penagih paksa” mereka yg meminjam uangnya dan pada waktunya tak mau membayar utangnya.
Apabila musim panen tiba, dihalaman rumah Nyi Endit (yg lebih pantas disebut istana) penuh padat oleh hasil pertanian, terutama padi.
Pada suatu ketika datang musim kemarau yg amat panjang, yg mengakibatkan musim paceklik pun tiba, yg menyengsarakan petani-petani yg hidupnya sudah amat melarat. Dalam tempo yg singkat, penyakit kelaparan menghantui penduduk. Hampir setiap hari selalu ada kabar kematian penduduk karena kelaparan.
Tapi keadaan di istana tuan tanah dan lintah darat Nyi Endit justru sebaliknya. Hampir seminggu sekali pesta-pesta bersama sanak keluarga dan kerabatnya tetap diselenggarakan.
“saudara-saudara makan dan minumlah sepuas hati….. Malam ini kita rayakan keuntungan besar yg ku peroleh dari hasil panen tahun ini..” kata Nyi Endit sambil tersenyum di depan tamu-tamunya.
Tiba-tiba ditengah pesta itu muncul pengawal Nyi Endit dan menghadap perempuan itu.
“Nyai, diluar ada pengemis yg maksa ingin masuk ruangan untuk minta sedekah..”
“apa? Pengemis? Tak ada sedekah yg aku berikan….. Usir dia..!” teriak Nyi Endit.
Tapi ternyata yg dimaksud pengemis itu sudah ada di ruangan itu.
“nyi endit, kau memang benar-benar manusia kejam” kata pengemis tua itu.
“mau apa kau pengemis busuk? Pergi kau dari tempatku..!” dengan gusar Nyi Endit membentak.
Namun pengemis itu tetap diam tak beranjak dari tempatnya. Kemudian ia berkata:
“tak mau memberi sedekah kepada manusia melarat macam aku?! Hmm… Sungguh berkutuk hidupmu Nyi Endit..! Kau tega berpesta pora di tengah-tengah rakyat kelaparan dan sekarat karena darahnya setiap hari kamu hisap. Betul-betul kau lintah darat terlaknat..!!”
Mendengar ucapan pengemis tua itu Nyi Endit menjadi geram.
“binatang..! Anak-anak ayo kepruk dan cincang keledai tua itu..!” teriak Nyi Endit menyuruh pengawalnya.
Serentak keempat pengawal Nyi Endit itu mencabut goloknya masing-masing dan menyerbu pengemis tua itu. Tapi dalam sekali gebrak keempat pengawal itu terlempar jatuh hingga beberapa meter.
Nyi Endit dan semua tamu yg hadir menjadi sangat terkejut, tak menduga si pengemis itu memiliki kepandaian yg hebat.
“nyi endit, baiklah. Sebelum aku meninggalkan istanamu, karena ternyata kau tak mau berbaik hati kepadaku dan manusia-manusia melarat lainnya. Aku ingin memberikan pertunjukan padamu” kata pengemis itu seraya menancapkan sebatang ranting ke lantai. “Nah sekarang cabutlah kembali ranting ini, bila tak sanggup kau boleh mewakilinya kepada orang lain..! Bila kalian bisa mencabutnya, betul-betul kalian adalah orang yg paling mulia di dunia ini..!!!”
Nyi Endit masih memandang enteng pengemis itu, tapi ia merasa penasaran untuk mencabut ranting itu. Maka disuruh pengawalnya yg berbadan cukup kekar untuk mencabutnya.
“he…he…he…he… Baik nyai, kukira tak ada sulitnya” kata pengawal itu dengan sombong. Namun walau ia sudah berusaha dengan sekuat tenaga untuk mencabut rating itu, sungguh ajaib rating itu tidak tercabut sesenti pun.
“nyi endit, ternyata andalanmu yg kau bayar mahal itu tak berarti apa-apa bagimu. Lihatlah aku dengan mencabutnya…!!”.
Setelah berkata demikian, pengemis itu dengan mudah mencabut rating kayu itu. Dan dari lubang bekas rating itu tertancap memancarkan air dengan derasnya….
“nyi endit, sudah saatnya kau mendapat hukuman karena dosa-dosamu memeras penduduk” kata pengemis itu, kemudian secara samar-samar ia lenyap. Menghilang entah kemana.
Dan kemudian terdengar ledakan hebat dibarengi dengan menggelegaknya air yg keluar dari dalam tanah. Sementara diluar turun hujan dengan lebatnya, diselingi guncangan-guncangan gempa bumi yg seakan akan menarik desa itu kedalam perut bumi.
Dengan sekejap desa Nyi Endit yg malang itu sudah tergenangair bagai sebuah danau kecil yg baru terbentuk. Sementara penduduk lainnya selamat. Karena sebelum mala petaka itu terjai seorang pengemis misterius telah memberi tahu mereka supaya segera mengungsi, karena akan terjadi malapetaka dan banjir besar.
Demikianlah cerita tentang situ bagendit. Nama ini mungkin di ambil dari nama Nyi Endit, agar orang-orang selalu sadar dan ingat akan nasib manusa yg tamak, kikir dan serakah dengan memeras orang lain.
Menurut sebagian orang di Situ Bagendit, kini hidup seekor lintah sebesar kasur. Katanya itu jelmaan Nyi Endit..
http://apepsaprol.wordpress.com/2012/05/07/situ-bagendit-cerita-rakyat-jawa-barat/
Konon beribu-ribu tahun yang lalu sebelum Situ Bagendit menjadi “Situ”, tempat itu merupakan dataran desa yg subur dan seorang janda kaya bernama Nyi Endit yg paling berkuasa dan ditakuti di desa tersebut.
Kekayaan yg berlimpah-limpah ia gunakan untuk modal dipinjamkan kepada penduduk dengan bunga yg amat tinggi. Untuk keamanan pribadinya, Nyi Endit memelihara beberapa orang jago sebagai tukang kepruk. Jago-jago itu selain bertindak sebagai pengawal pribadi Nyi Endit, juga bertugas sebagai “penagih paksa” mereka yg meminjam uangnya dan pada waktunya tak mau membayar utangnya.
Apabila musim panen tiba, dihalaman rumah Nyi Endit (yg lebih pantas disebut istana) penuh padat oleh hasil pertanian, terutama padi.
Pada suatu ketika datang musim kemarau yg amat panjang, yg mengakibatkan musim paceklik pun tiba, yg menyengsarakan petani-petani yg hidupnya sudah amat melarat. Dalam tempo yg singkat, penyakit kelaparan menghantui penduduk. Hampir setiap hari selalu ada kabar kematian penduduk karena kelaparan.
Tapi keadaan di istana tuan tanah dan lintah darat Nyi Endit justru sebaliknya. Hampir seminggu sekali pesta-pesta bersama sanak keluarga dan kerabatnya tetap diselenggarakan.
“saudara-saudara makan dan minumlah sepuas hati….. Malam ini kita rayakan keuntungan besar yg ku peroleh dari hasil panen tahun ini..” kata Nyi Endit sambil tersenyum di depan tamu-tamunya.
Tiba-tiba ditengah pesta itu muncul pengawal Nyi Endit dan menghadap perempuan itu.
“Nyai, diluar ada pengemis yg maksa ingin masuk ruangan untuk minta sedekah..”
“apa? Pengemis? Tak ada sedekah yg aku berikan….. Usir dia..!” teriak Nyi Endit.
Tapi ternyata yg dimaksud pengemis itu sudah ada di ruangan itu.
“nyi endit, kau memang benar-benar manusia kejam” kata pengemis tua itu.
“mau apa kau pengemis busuk? Pergi kau dari tempatku..!” dengan gusar Nyi Endit membentak.
Namun pengemis itu tetap diam tak beranjak dari tempatnya. Kemudian ia berkata:
“tak mau memberi sedekah kepada manusia melarat macam aku?! Hmm… Sungguh berkutuk hidupmu Nyi Endit..! Kau tega berpesta pora di tengah-tengah rakyat kelaparan dan sekarat karena darahnya setiap hari kamu hisap. Betul-betul kau lintah darat terlaknat..!!”
Mendengar ucapan pengemis tua itu Nyi Endit menjadi geram.
“binatang..! Anak-anak ayo kepruk dan cincang keledai tua itu..!” teriak Nyi Endit menyuruh pengawalnya.
Serentak keempat pengawal Nyi Endit itu mencabut goloknya masing-masing dan menyerbu pengemis tua itu. Tapi dalam sekali gebrak keempat pengawal itu terlempar jatuh hingga beberapa meter.
Nyi Endit dan semua tamu yg hadir menjadi sangat terkejut, tak menduga si pengemis itu memiliki kepandaian yg hebat.
“nyi endit, baiklah. Sebelum aku meninggalkan istanamu, karena ternyata kau tak mau berbaik hati kepadaku dan manusia-manusia melarat lainnya. Aku ingin memberikan pertunjukan padamu” kata pengemis itu seraya menancapkan sebatang ranting ke lantai. “Nah sekarang cabutlah kembali ranting ini, bila tak sanggup kau boleh mewakilinya kepada orang lain..! Bila kalian bisa mencabutnya, betul-betul kalian adalah orang yg paling mulia di dunia ini..!!!”
Nyi Endit masih memandang enteng pengemis itu, tapi ia merasa penasaran untuk mencabut ranting itu. Maka disuruh pengawalnya yg berbadan cukup kekar untuk mencabutnya.
“he…he…he…he… Baik nyai, kukira tak ada sulitnya” kata pengawal itu dengan sombong. Namun walau ia sudah berusaha dengan sekuat tenaga untuk mencabut rating itu, sungguh ajaib rating itu tidak tercabut sesenti pun.
“nyi endit, ternyata andalanmu yg kau bayar mahal itu tak berarti apa-apa bagimu. Lihatlah aku dengan mencabutnya…!!”.
Setelah berkata demikian, pengemis itu dengan mudah mencabut rating kayu itu. Dan dari lubang bekas rating itu tertancap memancarkan air dengan derasnya….
“nyi endit, sudah saatnya kau mendapat hukuman karena dosa-dosamu memeras penduduk” kata pengemis itu, kemudian secara samar-samar ia lenyap. Menghilang entah kemana.
Dan kemudian terdengar ledakan hebat dibarengi dengan menggelegaknya air yg keluar dari dalam tanah. Sementara diluar turun hujan dengan lebatnya, diselingi guncangan-guncangan gempa bumi yg seakan akan menarik desa itu kedalam perut bumi.
Dengan sekejap desa Nyi Endit yg malang itu sudah tergenangair bagai sebuah danau kecil yg baru terbentuk. Sementara penduduk lainnya selamat. Karena sebelum mala petaka itu terjai seorang pengemis misterius telah memberi tahu mereka supaya segera mengungsi, karena akan terjadi malapetaka dan banjir besar.
Demikianlah cerita tentang situ bagendit. Nama ini mungkin di ambil dari nama Nyi Endit, agar orang-orang selalu sadar dan ingat akan nasib manusa yg tamak, kikir dan serakah dengan memeras orang lain.
Menurut sebagian orang di Situ Bagendit, kini hidup seekor lintah sebesar kasur. Katanya itu jelmaan Nyi Endit..
http://apepsaprol.wordpress.com/2012/05/07/situ-bagendit-cerita-rakyat-jawa-barat/
Asal Usul Telaga Warna (Cerita Rakyat Jawa Barat)
Dahulu kala
sebuah kerajaan berdiri di Jawa Barat. Kerajaan itu diperintah oleh seorang
prabu yang arif bijaksana. Rakyatnya hidup sejahtera.
Sayang sekali Prabu
dan permaisurinya tidak dikaruniai keturunan. Bertahun-tahun mereka menunggu
kehadiran seorang anak, hingga sang Prabu memutuskan untuk pergi ke hutan dan
berdoa. Ia memohon kepada Yang Maha Kuasa untuk memberinya keturunan.
Seluruh kerajaan
ikut bergembira ketika akhirnya doa Prabu dan Permaisuri dikabulkan. Permaisuri
mengandung dan melahirkan seorang bayi perempuan yang cantik.
Puteri tumbuh
menjadi seorang gadis yang cantik. Karena ia puteri satu-satunya dan
kelahirannya dulu begitu lama dinantikan, ia sangat dimanja. Semua keinginannya
dituruti.
Sekarang sang
puteri sudah dewasa. Sebentar lagi ia akan berusia tujuh belas tahun. Rakyat
kerajaan mengumpulkan banyak sekali hadiah untuk puteri tercinta mereka. Sang
Prabu mengumpulkan semua hadiah dari rakyat dan berniat akan membagi-bagikannya
kembali kepada mereka.
Ia hanya
menyisihkan sedikit perhiasan emas dan beberapa batu permata. Ia kemudian meminta tukang
perhiasan untuk melebur emas itu dan membuatnya menjadi sebuah kalung permata
yang indah untuk puterinya.
Pada hari ulang
tahun sang puteri, Prabu menyerahkan kalung itu.
“Puteriku,
sekarang kau sudah dewasa. Lihatlah kalung yang indah ini. Kalung ini hadiah
dari rakyat kita. Mereka sangat menyayangimu. “
“Pakailah kalung
ini, nak.”
Rakyat kerajaan
sengaja datang berduyun-duyun untuk melihat sang puteri pada hari ulang
tahunnya. Mereka ingin melihat kalung yang sangat elok bertaburan batu permata
berwarna-warni itu menghias leher puteri kesayangan mereka.
Puteri hanya
melirik kalung itu sekilas.
Prabu dan
Permaisuri membujuknya agar mau mengenakan kalung itu.
“Aku tidak mau,’
jawab puteri singkat.
“Ayolah, nak,”
kata permaisuri, ia mengambil kalung itu hendak memakaikannya di leher
puterinya. Namun puteri
menepis tangan permaisuri hingga kalung itu terbanting ke lantai.
“Aku tak mau
memakainya! Kalung itu jelek! Jelek!” jeritnya sambil lari ke kamarnya.
Permaisuri dan
semua yang hadir terpana. Kalung warna-warni yang indah itu putus dan
permatanya berserakan di lantai.
Permaisuri
terduduk dan mulai menangis. Lambat laun semua wanita ikut menangis, bahkan
para pria pun ikut menitikkan air mata. Mereka tak pernah mengira puteri yang sangat mereka sayangi dapat berbuat seperti itu.
Tiba-tiba di
tempat kalung itu jatuh muncul sebuah mata air yang makin lama makin besar
hingga istana tenggelam. Tak hanya itu, seluruh kerajaan tergenang oleh air,
membentuk sebuah danau yang luas.
Danau itu
sekarang tidak seluas dulu. Airnya nampak berwarna-warni indah karena pantulan
warna langit dan pohon-pohonan di sekelilingnya. Namun orang percaya bahwa
warna-warna indah danau itu berasal dari kalung sang puteri yang ada di
dasarnya.
Danau itu
disebut Telaga Warna, letaknya di daerah Puncak, Jawa Barat.
Gambar: http://hoteldipuncak.net/wp-content/uploads/telagawarna.jpg




